Ini Modus Kelompok Mafia Merampas Tanah John Hamenda Bernilai Ratusan Miliar

by -11 views

Manado, Fakta88.com – Pengusaha John Hamenda tak berhenti memperjuangkan aset tanahnya yang direbut kelompok mafia kelas kakap. Pengusaha yang pernah merancang Mall Manado Square (MMS) awal tahun 2003 itu kehilangan aset tanah bernilai ratusan miliar rupiah karena diembat bandit tanah yang melibatkan investor lain.

Hamenda sejatinya memiliki dua bidang tanah di pesisir Malalayang 1, Manado. Apes, setelah grup mafia tanah kelas kakap merebut semua aset itu, saat Hamenda terperangkap kasus aliran dana Bank BNI 46.

Mengenai kasus Hamenda dan pristiwa kehilangan aset bernilai ratusan miliar itu, berikut kronologis sebenarnya yang diterima Fakta88.com saat dihubungi John Hamenda pada Senin (26/20210, di Manado;

– John Hamenda memiliki dua bidang tanah di Jalan WR Monginsidi, Kelurahan Malalayang 1, Kecmatan Malalayang, Kota Manado. Bidang yang pertama seluas 36.560 m2. Itu sesuai Surat Ukur nomor 587 tertanggal 14 Juli 2003 dan sudah disertifikat (Sertifikat Hak Milik) dengan nomor 3788.

Bidang tanah yang kedua seluas 16.091 m2 sesuai Surat Ukur Nomor 588 tanggal 14 Juli 2003. Bidang ini sudah disertifikat dengan nomor 3789.

– Di atas dua bidang tanah tersebut, Hamenda bermaksud membangun Mall Manado Square (MMS). Setelah gambar perencanaan dan struktur bangunan MMS selesai dirancang, pada tahun 2003 Hamenda mulai memasarkan kios-kios. Beberapa investor mulai membeli kiso-kios dalam MMS.

– Sambil berencana membangun MMS, Hamenda mengembangkan usaha pertanian yakni perkebunan kentang dan anggur di Mildura, Autralia. Ia mengajak beberapa pihak yang berminat mengembangkan usaha itu dengan perjanjian berbagi hasil 3 persen sesuai proposalnya. Beberapa orang yang berminat berinvestasi di MMS dan perkebunan di Autralia mengubungi Hamenda. Mereka lalu menyertakan modal kurang lebih Rp40 miliar.

– Pada tanggal 24 April 2003, John Hamenda menandatangani Perjanjian Anjak Piutang dengan PT Aditya Putra Pratama Multi Finance (APPMF). Perjanjian itu untuk mengambil alih utang Hamenda di BNI 46 Jakarta.

– Hamenda mengetahui isi surat kabar bahwa PT APPMF menerima aliran dana atas kasus pembobolan L/C Bank BNI 46 Jakarta. Penyidik Mabes Polri kemudian menetapkan John Hamenda sebagai tersangka karena dianggap telah menerima aliran dana dari PT APPMF. Tapi di persidangan, John Hamenda tidak terbukti merugikan negara.

– Terganjal peristiwa hukum tersebut, Hamenda bermaksud menemui para investor, baik yang membeli kios di MMS, maupun yang ikut berinvestasi di perkebunan kentang dan anggur di Autralia. Ia kemudian memberikan jaminan tanah dengan syarat dan ketentuan, jika terjadi sesuai yang tidak diinginkan di kemudian hari (sakit parah, cacat tetap atau meninggal), maka Subagio Kasmin, Drs Siman Slamet, Arianto Mulia, Ratna Purwati Nicolas Badarudin, dan Deny Wibisono Saputro yang mewakili seluruh investor, dapat menjual tanah tersebut dan kemudian mengambil sejumlah uang untuk dibayarkan kepada investor sebagai pelunasan sesuai nilai investasi dan keuntungan. Sisa uang tersebut harus diserahkan kembali ke ahli waris John Hamenda.

– Hamenda bersama perwakilan investor kemudian membuat Akta Notaris sebagai penjamin atau assessor. Penandatanganan berlangsung di Notaris Meiyani Halimatussyadiah SH MH. Akta Noratis 11 sampai 14 keluar pada tanggal 14 November 2003.

– Untuk membuktikan bahwa surat di atas hanya sebagai jaminan, Subagio cs menandatangani Surat Titipan Sertifikat tertanggal 4 Mei 2004.

– Pada tanggal 24 Mei 2013, Subagio Cs tanpa sepengetahuan Hamenda sebagai pemilik dua SHM, membuat Peralihan Hak di antara mereka sendiri. Itu dibuat di hadapan Notaris Meiyani Halimatussyadiah SH MH. Maka munculan Akta nomor 16.

– Kemudian pada 25 Oktober 2013 diikuti Akta Pelunasan Atas Peralihan Hak dengan Nomor 07. Menyusul Akta Kuasa Menjual 08 dan Akta Kuasa Mengurus 09. Semua dibikin di hadapan Meiyani Halimatussyadiah SH MH.

– Pada 18 September 2017, Subagio CS menjual tanah Hamenda kepada Ridwan Sugianto di hadapan Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) Karel Linduat Butarbutar SH MH.

– Semua akta yang dibuat pada 25 Oktober 2013 tidak digunakan Karel Linduat Butarbutar SH MH, sebagai PPAT. Menurut Hamenda, PPAT Karel sendirilah yang mengetahui alasan dan dapat menjawab secara jelas.

– Hamenda tak terkejut bahwa tanah itu dijual Kasmin cs ke Ridawan Sugianto. Itu lantaran, ada tanah Ridwan Sugianto di belakang tanah Hamenda yang tidak memiliki akses masuk.

Setelah John Hamenda bebas dari penjara, ia menempuh jalur hukun baik pidana maupun perdata. “Semua gugatan itu kalah karena upaya mengalihkan tanah dikendali kelompok mafia tanah,” ujar Hamenda.

Kemudian, Ridwan Sugianto mengajukan gugatan perdata melawan Arianto Mulia dan Kasmin Cs di PN Jawa Barat. Perkara perdata dengan nomor 252/Pdt,G/2018/PN.Jkt.Brt yang dalam petitumnya meminta Akta Jual Beli Tanah yang dibuat didepan Karel itu sah dan mengikat.

“Saya menderita kehilangan besar semua aset yang dikumpulkan dengan susah payah. Pada hal saya berniat mengembalikan semua uang investor,” kata Hamenda. (*)