Banjir Pusat Kota Bitung : Mengurai Beban Warisan dan Efek Urban

by -56 views

Catatan Lingkungan : Emon ‘Kex’ Mudami

MUNGKIN Kota Bitung satu-satunya daerah di Sulut dengan corak geografi yang unik, sebagaimana diperagakan melalui struktur pemukiman linier memanjang, dengan umumnya daerah termukim dibatasi dua bentang alam sekaligus sebagai sabuk ‘pembatas’ yaitu tepian pantai/pesisir dan ke atasnya yang membujur mulai dari batas Tanjung Merah sampai ke arah Tandurusa dan seterusnya, dan mintakat (zona) bagian kaki gunung Dua Sudara yang nota bene termasuk kawasan (hutan) lindung.

Dengan corak memanjang nan ramping dengan sendirinya ikut menyimpan potensi ‘kritis’, terutama menyanggah lonjakan pertumbuhan penduduk, sebagaimana mulai terjadi di atas tahun 1990an sampai saat ini.

Fenomena efek urban nyaris menjadi kekhasan setiap daerah yang sedang berkembang, dengan indikator ekspansi lahan yang masif karena kebutuhan pemukiman baru akibat pertambahan penduduk. Gerak tumbuh ini sepintas memiliki korelasi dengan teori Malthus, khususnya pada sisi pertambahan penduduk yang lebih cepat. Masuknya ribuan pengungsi di akhir 1999 dicermati ikut memicu meningkatnya kebutuhan pangan dan sandang di kota ini.

Dan sejak periode 2000-an awal, Pemerintah Kota Bitung harus bekerja lebih gesit mengelola eksploitasi pemanfaatan kawasan terutamanya di mintakat dekat zona penyanggah, para developer berlomba menggarap lahan dan menyediakan sektor perumahan baru. Data yang sempat diendus sekitar 10 tahun silam oleh Yayasan Lestari, telah memperlihatkan jika bukaan lahan merangsek mendekati zona penyanggah.

Dapat dibayangkan setelah satu dekade kemudian, dipastikan kian besar areal yang mulanya daerah tutupan hutan dan catchment area berubah fungsi menjadi lokasi pemukiman. Secara alamiah saat hujan, air yang sebelumnya meresap ke dalam tanah, kini lebih banyak meluncur di permukaan dan berhimpun di dataran lebih rendah.

Dampak paling mudah terlihat dan dirasakan adalah ketika musim hujan, daerah di bawah kawasan pegunungan sampai di sekitar pusat kota Bitung menjadi makanan empuk limpahan air yang ikut menyeret lumpur dan pasir, sebagaimana yang mudah terlihat usai hujan, sedimen terakumulasi di banyak tempat.

Tekanan atas keseimbangan hulu dan hilir ini makin kompleks, ketika mega proyek jalan tol membelah hampir separuh lebih daerah sabuk pengaman di kawasan penyanggah. Perubahan mendasar bentang alam dalam waktu yang singkat memicu ketakstabilan kawasan berikut fungsi hidrologi . Selain memperparah kawasan pusat kota dan daerah di dataran lebih rendah, juga ikut memberi dampak di kawasan yang sebelumnya tak pernah kebanjiran saat ini ikut tergenang.

Lalu siapa yang salah, dalam skema pembangunan kekinian pemerintah kota tetaplah sebagai pihak yang bertanggung-jawab penuh, didukung oleh semua pihak termasuk warga kota. Tak elok saling menyalahkan, sikap gentle ini sedikitnya terlacak pada saat Walikota Maurits Mantiri dengan besar hati ‘merunduk’ merespon sebuah cuitan kenes di medsos menyoal banjir di kawasan pusat kota Bitung baru-baru ini.

Walikota meminta semua pihak bersabar, karena telah ada skema penanganan holistik menangani problem akut ini. Secara khusus berkait banjir yang saat ini telah menjadi masalah klasik membutuhkan waktu penguraian, dengan pendekatan sistematis dan terintegrasi, hulu hilir, lintas sektoral. Setidaknya di banding daerah lain, banjir yang terwariskan dari periode ke periode karena efek konsekuensi pembangunan perkotaan ini lebih bersifat ‘lokalitas internal kota’, tidak serumit yang menimpa Manado yang terhubung dengan kota/kabupaten lain terutamanya di kawasan hulu yaitu Minahasa dan Tomohon di samping problem akut di dalam kota Manado sendiri.

Dengan anatomi problem seperti yang disebutkan di atas, di periode kepemimpinan Walikota Maurits Mantiri dan Wakil Walikota Hengky Honandar memastikan, salah satu beban warisan ini dapat diurai dan ditangani secara nyata

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments